Filsafat Socrates – Selamat pagi Anak-anak Alam! Apa kabar kalian hari ini? semoga kalian dalam ketenangan. Mungkin sebelumnya si Mbah pernah membahas tentang beberapa sosok filsuf diantaranya, Plato dan Aristoteles.
Kali ini Om yang akan memperkenalkan kalian pada salah satu orang
penting dalam dunia filsafat, yaitu Socrates. Socrates ini tidak kalah
penting, karena dilihat dari segi historisnya, dia adalah generasi
pertama dari dua pemikir besar tersebut, Plato dan Aristoteles. pengen
kenalan? Mari kita mulau dari…
Siapa Itu Socrates?
Socrates adalah seorang filsuf di era filsafat kuno yang berasal
dari Athena, Yunani. Dia hidup sekitar 469 S.M – 399 S.M. Selain itu,
Socrates juga termasuk salah satu figur paling penting dalam tradisi
filosofis Barat dimana dia adalah generasi pertama dari tiga ahli
filsafat yang memiliki nama besar di Yunani, yaitu Socrates, Plato, dan
Aristoteles. Pada awalnya Socrates adalah guru dari Plato, dan generasi
selanjutnya, Plato menjadi guru dari Aristoteles. Socrates sendiri
selama hidupnya tidak pernah meninggalkan buah pemikirannya dalam bentuk
karya tulis apapun. Sosoknya justru lebih dikenal dari sumber literatur
yang ditulis oleh muridnya, Plato, dimana Socrates hamper selalu
menjadi tokoh utamanya.
Riwayat hidup
Socrates lahir sekitar 469 S.M, diperkirakan ayah Socrates adalah
seorang pemahat patung batu (Stone Mason) bernama Sophroniskos dan
ibunya adalah seorang bidan bernama Phainarete. Dari profesi ibunya
inilah Socrates nantinya menamai metode berfilsafatnya sebagai metode
kebidanan. Socrates juga memiliki tiga orang anak dari istrinya yang
bernama Xantippe.
Pemikiran filsafat Socrates sendiri mengundang pertanyaan karena
selama hidupnya Socrates tidak pernah menuliskannya dalam bentuk apapun.
Apa yang dianggap sebagai buah pikirnya saat ini adalah hasil catatan
murid-muridnya seperti, Plato, Xenophone (430-357 S.M.), dan lain-lain.
Dari kesemua itu yang paling terkenal adalah pengambaran Plato akan
gurunya dalam dialog-dialog yang ditulisnya. Dalam karyanya Plato selalu
menggunakan nama Socrates sebagai tokoh utama, karena itu, memisahkan
gagasan asli Socrates sangat sulit dipisahkan dari gagasan Plato yang
disampaikan melalui mulut Socrates dalam karya tulisnya. Plato sendiri
hanya menulis tiga kali namanya sendiri dalam karya-karya tersebut, dua
kali dalam Apoligi, dan sekali dalam Phaedrus.
Penampilan Socrates dikenal dengan seorang yang tidak tampan,
dengan pakaian sederhana, dan tanpa alas kaki berkeliling mendatangi
orang-orang Athena untuk berdisksi tentang filsafat. Pada awalnya ini
dilakukannya untuk memastikan suara gaib yang didengar temannya dari
Oracle Delphi yang mengatakan bahwa tidak ada orang yang lebih bijak
dari Socrates. Merasa tidak memiliki sesuatu apapun yang dapat dikatakan
bijak dalam dirinya, Socrates berkeliling mencari orang-orang yang
dianggap bijak pada masa itu dan mengajaknya berdisksi tentang berbagai
masalah kebijaksanaan. Metode inilah yang oleh Socrates disebut sebagai
metode kebidanan, dimana dia menganalogikan dirinya sebagai bidan yang
membatu kelahiran sebuah pikiran melalui proses dialektik yang panjang
dan mendalam, sama seperti seorang bidan yang membantu kelahiran seorang
bayi. Yang dikejarnya dari proses diskusi tersebut adalah sebuah
definisi absolut tentang satu masalah meskipun seringkali orang yang
diajaknya berdiskusi gagal mencapai definisi tersebut. Akhirnya Socrates
sampai pada kesimpulan bahwa suara gaib yang didenganr temannya itu
adalah benar, karena pada kenyataannya dia memang bijaksana
karena dia tidak merasa bijaksana. Sedang orang-orang yang diajaknya
berdiskusi adalah orang yang tidak bijaksana karena mereka merasa
sebagai orang yang bijaksana.
Karena caranya berfilsafat inilah Socrates menerima kebencian dari
orang-orang yang diajaknya berdiskusi, karena setelah proses dialektik
Socrates mereka lewati, maka terlihatlah bahwa apa yang sebenarnya
merika pikirkan benar-benar mereka tidak ketahui kebenarannya. Kejadian
inilah yang pada akhirnya mengantarkan Socrates pada peradilan yang
mengakhiri masa hidupnya atas tuduhan mersak generasi muda. Sebuah
tuduhan yang sebenarnya dengan gampang dapat dipatahkannya melalu
pembelaan sebagaimana tertulis dalam Apologi karya Plato. Socrates wafat
pada usia tujuh puluh tahun (atau tujuh puluh satu) dengan meminum
racun, sebagaimana keputusan pengadilan yang diterimanya dimana 280
orang mendukung dihukum matinya Socrates dan 220 orang liannya menolak.
Dalam Krito, Socrates diceritakan sebenarnya dapat lari dari
penjara dan menghindari hukuman mati dengan bantuan dari
sahabat-sahabatnya, namun dia menolak. Alasannya karena dia terikat pada
sebuah “kontrak” kepatuhan hokum yang sama seperti semua orang di
Athena, maka menurutnya dia harus tetap menjalani hukuman matinya tanpa
perlu menghindar. Keberaniannya dalam menghadapi maut ini digambarkan
oleh Plato dalam karyanya yang berjudul Phaedo dengan sangat indah.
Kematian Socrates ditangan ketidakadilan peradilan ini menjadi salah
satu peristiwa peradilan paling bersejarah dalam masyarakat barat selain
peradilan atas Yesus Kristus.
Ada sebuah kutipan yang indah menurut Om, yang diungkapkan oleh Socrates
True wisdom comes to each of us when we realize how little we understand about life, ourselves, and the world around us. (Socrates)
Jadi seperti itu, kebijaksanaan yang
sebenarnya datang kepada kita ketika kita menyadari betapa sedikitnya
kita mengerti tentang hidup, diri kita, dan dunia di sekitar kita.
Filosofi
Socrates menjadikan masalah kemanusiaan sebagai objek filsafatnya.
Pemecahan masalah kemanusiaan tersebut digalinya dengan mengejar sebuah
definisi absolut (mutlak) atas permasalahn tersebut melalui proses
dialektika yang panjang dan mendalam. Pengajaran pengetahuan hakiki
melalui penalaran dialektis inilah yang menjadi peninggalan pemikiran
filsafatnya yang paling penting, dan juga membuka jalan bagi para filsuf
selanjutnya untuk mengembangkan metodenya.
Socrates juga dikatakan sebagai orang pertama yang mengkaji aspek
kemanusiaan menjadi objek filsafatnya setelah sebelumnya dilupakan oleh
para pemikir hakikat alam semesta. Pemikiran Socrates ini selanjutnya
enjadi landasan bagi perkembangan filsafat etika dan epistemologis
(dasar-dasar dan batasan ilmu pengetahuan) di kemudian hari.
Pengaruh
Metode dialektik Socrates yang dikenal sebagai metode elenchos
telah menjadi sumbangan terbesasnya bagi perkembangan pemikiran filsafat
Barat. Metode ini diterapkan untuk menguji konsep moral yang pokok.
Karena itu, Socrates dikenal sebagai bapak etika dan filsafat moral (dan
filsafat secara umum juga tentunya).
Dan itulah dia Socrates. Om terkesan ketika dia tidak mau
menghindari hukuman matinya. Apa kalian juga terkesan pada orang ini?
Yuk tulis di comment
Tidak ada komentar:
Posting Komentar